Selasa, 13 November 2018

Menjajal Sajian Ayam Bekakak, Menu Makan Siang Andalan di Ubud

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menu ayam bekakak di D'Alas, Ubud, Jumat, 9 Februari 2018. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Menu ayam bekakak di D'Alas, Ubud, Jumat, 9 Februari 2018. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Kuliner Bali tak melulu merujuk pada ayam betutu, sate lilit, dan plencing kangkung. Kalau bosan pada tiga menu ikonis itu, cobalah ayam bekakak.

    Ayam bekakak adalah ayam kampung yang usianya masih muda. Kira-kira berada di rentang 6-8 bulan dan berukuran dua kali besarnya kepalan manusia.

    Olahan ayam bekakak bisa ditemukan di beberapa restoran berkonsep keluarga di Bali. Salah satunya di D'Alas, Ubud.

    Di restoran ini, ayam tersebut digoreng ala chrispy. Bumbunya memakai komplemen sederhana, seperti garam dan bawang putih. Ayam bekakak direbus cukup lama sampai empuk. Namun tekstur dagingnya tak rusak.

    Bagian daging dalamnya juicy, tapi bagian luarnya garing. Kulit ayamnya berbunyu renyah ketika digigit.

    Ayam bekakak disajikan lengkap dengan lawar. Lawar adalah sayur khas Bali berisi rabung dan irisan kacang panjang. Umumnya, lawar dimasak memakai darah babi. Namun, di restoran ini, lawar hanya diolah dengan kunyit sehingga halal.

    Komplemen pendamping lainnya adalah sambal matah berisi cacahan bawang merah, combrang, dan cabai merah. Sambal matah dimasak tak terlalu kering lantaran dibubuhi minyak masak yang membuat sambal sedikit berkemal.

    Plating atau penampilan piring untuk menu ini ditata bak tumpeng mini. Nasi berbentuk kerucut dilapisi daun pisang diletakkan di tengah-tengah piring. Sedangkan lauk-lauknya melingkari. Tentu menyenangkan buat penikmat kuliner Nusantara.

    Ayam bekak cocok disantap untuk makan siang karena tergolong menu berat. Sepiring menu lengkap ini dibanderol Rp 85 ribu.

    Sambil bersantap siang, Anda bisa menikmati hawa Ubud yang sejuk. Apalagi, restoran yang berlokasi di Jalan Raya Tegalalang itu dikepung perkebunan buah durian dan jeruk. Ada juga tanaman kopi yang selalu berbuah. Sementara itu, hamparan sawah turut menjadi latar belakang. Jadi, sambil makan, Anda bisa menikmati hehijauan.

    Artikel lain Titik di Nusa Lembongan Ini Layak Disambangi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?