Kampung Indian di Blitar Banyak Diminati Turis Asing

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pelancong berfoto bersama penduduk lokal menggunakan warbonnet atau topi ala suku Indian. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Seorang pelancong berfoto bersama penduduk lokal menggunakan warbonnet atau topi ala suku Indian. Tempo/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Blitar - Suara genderang bertalu-talu bergaung di perkampungan kecil Dusun Bendil, Desa Jiwut, Nglegok, Blitar. Sekelompok orang berpakaian ala suku Indian satu per satu keluar dari rumah yang terletak di perut perkampungan itu. 

    Baca juga: Tiga Wisata Favorit di Kebun Kopi Blitar yang Hits

    Ada sebuah tenda mirip tepees, hunian tradisional suku yang berasal dari Amerika Utara tersebut, di muka rumah. Sekelompok orang ini berbaris mengelilingi tenda, lalu menari-nari seirama dengan instrumen. Barisan paling depan diisi anak-anak. Lalu diikuti para remaja, ibu-ibu, dan kepala suku.

    Kepala suku inilah si empunya Kampung Indian. Namanya Miftakhul Rohman. Ia menyulap rumahnya seperti galeri. Selain tepees tiruan, ia juga meletakkan replika topeng Indian berukuran hampir 2 meter yang ditata mirip pintu gerbang kampung persukuan.

    Di dinding-dinding ruang tamunya, terdapat ratusan kerajinan topeng Indian dengan warna bervariasi. Juga topi atau warbonnet yang terbikin dari bulu-bulu.

    Rohman adalah seniman pembuat topeng. Ia mengkhususkan keahliannya pada produksi topeng Indian. Usaha itu dimulai pada 1999.

    "Pada dasarnya, saya suka mengotak-atik bulu, yang awalnya adalah bulu kemoceng, dan menggubahnya jadi kerajinan tangan," tutur Rohman saat ditemui di rumahnya, Blitar, pada Minggu sore, 21 Januari 2018.

    Rumah yang dinamainya pusat Kerajinan Topeng Indian itu kini jadi salah satu alternatif wisata di Blitar. Ia mengaku, cukup banyak wisatawan yang berkunjung. Bahkan, ada yang datang dan tertarik membeli satu set kostum Indian. "Kepentingannya untuk hobi, fashion, atau sekadar iseng," katanya kepada Tempo.

    Namun, turis peminat produksinya 80 persen adalah turis asing. "Awalnya ada permintaan dari turis Prancis. Lalu sekarang pasar utamanya malah untuk orang Indian asli dan diekspor," tuturnya.

    Satu set pakaian ala Indian dijual rata-rata Rp 20 juta. Bahannya terbikin dari kulit sapi asli. Bulunya pun dari bulu ayam kampung. Satu bulan, Rohman membutuhkan satu juta ekor ayam kampung untuk diambil bulunya.

    Selain bulu ayam jago, Rohman memanfaatkan bulu entok dan kalkun. "Yang jelas bukan bulu dari hewan yang dilindungi," ucapnya.

    Tak cuma bisa beli kostum otentik itu, wisatawan yang datang ke industri rumahan dapat berfoto ala Indian memakai warbonnet. Selain di Blitar, galeri Rohman dapat ditemui di Bali, Kediri, dan Batu.

    Berita lain: Menengok Wajah Puncak Gunung Kelud yang Berubah Pascaerupsi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.