Menengok Wajah Puncak Gunung Kelud yang Berubah Pasca-Erupsi

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua wisatawan menyaksikan sisa letusan di kawasan Gunung Kelud yang gersang pada 16 Maret 2014. Gunung Kelud meletus pada 13 Febuari 2014. Arief Priyono/LightRocket via Getty Images

    Dua wisatawan menyaksikan sisa letusan di kawasan Gunung Kelud yang gersang pada 16 Maret 2014. Gunung Kelud meletus pada 13 Febuari 2014. Arief Priyono/LightRocket via Getty Images

    TEMPO.CO, Kediri - Puncak Gunung Kelud kini telah berubah wajah. Penampakannya mirip dengan Tangkuban Perahu di Jawa Barat atau Kelimutu di Ende, yang punya danau kawah.

    Baca juga: Begini Cara Pemkab Kediri Mengelola Wisata Gunung Kelud

    Air di danau kawah Gunung Kelud yang masih aktif tersebut berwarna hijau pupus. Penampakan yang demikian terjadi akibat pengaruh gas belerang. Kalau dilihat saat matahari terbit, warnanya kemilauan terkena cahaya.

    Sebelumnya, kawah Gunung Kelud itu disumbat oleh kubah yang bentuknya seperti anak gunung. Saat erupsi 2014 terjadi, puncak ini runtuh. Sisa material dari erupsi yang didului gempa tremor itu telah menimbun seluruh sisi tebing.

    Di tebing-tebing yang mengitari anak Gunung Kelud, dulu, terdapat jalur yang bisa dilalui wisatawan. Mereka dapat menyaksikan penampakan gunung yang berlokasi di tiga kabupaten itu, yakni Blitar, Kediri, dan Malang, dari dekat.

    Dari dokumentasi Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Kediri, penampakan fisik puncak Gunung Kelud pasca-erupsi 2014 mirip dengan penampakannya pada 1901. Perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Eko Priatno, yang ditemui Tempo di Kediri, Minggu, 22 Januari 2018, mengatakan puncak Kelud kini kembali pada wujud aslinya.

    Danau kawah Gunung Kelud ini dikeliling tiga puncak, yakni puncak Sumbing, puncak Gajah Mungkur, dan puncak Kelud. Puncak paling tinggi adalah puncak Kelud. Ketinggiannya mencapai 1.731 meter di atas permukaan laut (mdpl).Pemandangan danau kawah puncak Gunung Kelud dari kawasan khusus peneliti. Tempo/Francisca Christy Rosana

    Waktu terbaik untuk menyaksikan danau di puncak Gunung Kelud ini adalah pagi hari, tepatnya saat matahari terbit. Usahakan pula datang saat kemarau, mulai April hingga Agustus. Sebab, kala Tempo datang pada musim hujan ini, matahari tak muncul. Pemandangan sekitar pun tampak putih tertutup kabut.

    Untuk menuju puncak, pengunjung harus naik jeep dari pintu loket masuk menuju tempat parkir. Tarifnya Rp 375 ribu untuk empat orang. Bisa juga naik shuttle bus dengan tarif Rp 100 ribu per angkutan yang muat 8-10 orang.

    Dari tempat parkir, pengunjung kudu berjalan kaki menuju puncak Gajah Mungkur dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam. Jadi, untuk mendapatkan momentum matahari terbit, anda mesti memulai pendakian pada pukul 04.00.

    Kawasan yang dulunya dipakai untuk jalur pengunjung mengunjungi puncak Gunung Kelud kini masih belum dibuka untuk umum. Sementara waktu, kawasan itu cuma bisa dikunjungi peneliti atau dinas setempat Kawasan ini bakal dibuka lagi untuk umum pada akhir Desember 2018. Saat ini, jalan menuju kawasan tersebut sedang diperbaiki.

    Berita lain: Jokowi Perkenalkan Ikon Baru NTT: Jembatan Petuk


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.