Minggu, 19 Agustus 2018

Rumah Makan Bernuansa Tradisional di Sampit

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi dan Iriana Joko Widodo bersama rombongan makan siang di Rumah Makan Jember, Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Sebelumnya Jokowi meresmikan Pos Lintas Batas Negara Terpadu Nanga Badau, 16 Maret 2017. (facebook.com)

    Presiden Jokowi dan Iriana Joko Widodo bersama rombongan makan siang di Rumah Makan Jember, Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Sebelumnya Jokowi meresmikan Pos Lintas Batas Negara Terpadu Nanga Badau, 16 Maret 2017. (facebook.com)

    TEMPO.CO, Sampit - Usaha kuliner dengan konsep tradisional cukup diminati masyarakat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Berbagai rumah makan yang mengusung konsep tradisional pun bermunculan.

    "Pengamatan kami, konsep tradisional cukup diminati masyarakat. Sejauh ini Alhamdulillah respons masyarakat cukup bagus," kata koordinator pengelola rumah makan Dapoer Bahari, Fauzan Aprilianor, di Sampit, Jumat, 12 Januari 2018.

    Baca juga: Tradisi Memasak Bubur Asyura di Sampit Masih Lestari

    Dia mengatakan saat ini banyak rumah makan di Sampit yang mengusung konsep tradisional. Nuansa tradisional ditampilkan melalui bentuk bangunan yang terbuat dari kayu beratap daun, dipadu dengan berbagai pernak-pernik yang makin menguatkan nuansa tradisional.

    Pada bantaran Sungai Mentaya, Kecamatan Baamang, ada beberapa rumah makan berkonsep tradisional, yakni Rumah Makan Kampung Ulin, D'layar, Batu Mandi, dan Jelodong. Pada lokasi lainnya, ada Rumah Makan Bambu Kuning dan Mentaya.

    Dapoer Bahari adalah rumah makan berkonsep tradisional yang baru dibuka. Rumah makan yang terletak di Jalan Pemuda itu dikelola bersama oleh sembilan pemuda yang tertarik berbisnis kuliner. Usaha ini sekaligus memberikan peluang kepada pelaku usaha kecil lainnya yang ingin membuka usaha kuliner.

    Ada 14 los kedai yang mereka siapkan. Sebanyak sembilan los kedai digunakan para pengelola dengan jenis usaha kuliner masing-masing, sedangkan sisanya disewakan kepada pelaku usaha lainnya.

    Desain rumah makan ini cukup unik. Selain menguatkan kesan tradisional, pengelola juga membawa pesan moral dan dakwah melalui tulisan kalimat-kalimat nasihat dan motivasi yang ditulis di dinding balai-balai tempat makan.

    Pembeli yang datang tidak hanya kalangan remaja, tetapi rombongan keluarga dan komunitas. Mereka mengaku cukup terhibur dengan kalimat-kalimat positif yang terpampang di dinding balai-balai tempat mereka menyantap makanan.

    "Pengamatan kami, konsumen di Sampit selain mengutamakan rasa, juga memperhatikan masalah harga. Makanya makanan di tempat kami ini harganya lebih murah dibanding tempat lain. Untung kami akhirnya memang tidak terlalu banyak, tapi berkelanjutan," kata Fauzan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.