Minggu, 19 Agustus 2018

Merasakan Sejarah Turki di Istanbul

Reporter:
Editor:

Rezki Alvionitasari

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Museum Hagia Sophia atau Ayasofya. atozistanbul.com

    Museum Hagia Sophia atau Ayasofya. atozistanbul.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Saya memasuki kota berpenduduk sekitar 14 juta jiwa itu melalui Bandara Ataturk, Turki. Segera setelah menjejakkan kaki di sana, saya bisa menyaksikan sisa-sisa keperkasaan Romawi Timur dalam bentuk benteng-benteng. Salah satu benteng terbesar berukuran tinggi 18 meter dan panjang 5 kilometer yang membentang di sisi jalan.

    Sebagian benteng itu dulu berada tepat di tepi laut, bermenara pengintai, dan dilengkapi persenjataan yang siap menggempur musuh. Dengan ratusan ribu serdadu dan jaringan distribusi makanan serta dukungan sejumlah kerajaan Asia dan Eropa yang mereka taklukkan, Kekaisaran Romawi Timur menjadi kerajaan terkuat di dunia saat itu.

    Baca juga: Patung Lilin dan Lukisan Tiga Dimensi di Museum Panorama Turki

    Ketika memasuki Konstantinopel, Mehmed II dan pasukannya tidak menghancurkan bangunan-bangunan peninggalan penguasa sebelumnya. Dia memang mengubah fungsi Hagia Sophia-gereja Ortodoks yang sudah berumur 1.000 tahun-menjadi masjid, tapi tidak menurunkan atau menghancurkan simbol-simbol Kristen di dalamnya.

    Simbol-simbol Kristen itu disandingkan atau sekadar ditutupi dengan simbol-simbol Islam. Selama 500 tahun berikutnya, Hagia Sophia menjadi masjid sebelum dialihfungsikan menjadi museum oleh Mustafa Kemal Ataturk pada 1923. Di bawah Ataturk, bentuk negara Turki pun berganti menjadi republik.

    Saya sempat melihat-lihat Hagia Sophia. Bangunan ini indah dan terletak tak jauh dari Masjid Biru, yang dibangun Muhammad Al-Fatih. Kedua tempat tersebut dipisahkan oleh taman yang terletak di kawasan Sultanmet, atau lebih populer disebut Hipodrom. "Siapa pun yang ke Turki wajib mengunjungi tempat ini. Bukan semata karena ada Hagia Sophia atau Masjid Biru, tapi juga karena inilah salah satu tempat terpenting Kekaisaran Romawi Timur," ujar Davut, pria asal Turki yang memandu saya, Desember lalu.

    Sebelum Al-Fatih masuk, demikian menurut sejarahnya, Hipodrom merupakan lapangan yang sangat luas. Fungsi utamanya adalah tempat raja melihat lomba kereta kuda. Kita bisa membayangkan bagaimana hiruk-pikuknya suasana ketika itu, ketika ratusan kereta kekaisaran berparade atau berlomba di sana. Saat Al-Fatih berkuasa, lapangan ini ia jadikan tempat menyimpan kuda-kudanya.

    Di Hipodrom kita bisa menyaksikan tiga monumen dari masa lampau yang tersisa, yakni obelisk (patung dari batu yang meruncing ke atas) Konstantinopel, Tiang Serpentina, dan obelisk Mesir. Batu-batu marmer tampak menyangga obelisk Konstantinopel yang menjulang setinggi 60 meter. Tiang Serpentina dulu berada di kuil Dewa Apollo, Delphi, Yunani. Tiang berbahan perunggu ini didirikan untuk memperingati kemenangan Yunani atas Persia. Di atas tiang tadinya terdapat patung tiga kepala ular, namun dibuang saat Perang Salib IV meletus.

    Adapun obelisk Mesir dibangun Firaun Thutmose III, yang memerintah Mesir hingga 1425 sebelum Masehi. Oleh kaisar Romawi, bangunan itu dipindahkan dari kuil besar Karnak di Mesir ke Aleksandria, dan akhirnya ke Istanbul. Jadi, para kaisar Romawi itu mengangkut benda-benda bersejarah ke Hipodrom sebagai simbol kemenangan dan kekuasaan.

    Kita bisa seharian menyusuri Hipodrom, duduk-duduk di bangku, memandangi taman bunga nan asri sembari membayangkan kedahsyatan tempat ini ribuan tahun silam. Saya seakan-akan bisa menyaksikan pasukan Romawi dengan kereta kuda berdiri mengenakan baju khas mereka, lalu berpacu di Hipodrom, yang bisa menampung sekitar 1.000 penonton. Pengunjung bisa menunaikan salat di Masjid Biru sewaktu-waktu karena tempat ini terbuka 24 jam. Pengunjung yang bukan muslim pun diizinkan masuk ke lingkungan masjid dalam batas-batas tertentu.

    Tapi jangan tinggalkan Istanbul tanpa masuk ke Museum Panorama. Inilah satu-satunya museum di Turki yang hampir setiap hari dijejali ribuan pengunjung dari berbagai negara, terutama Asia dan Eropa. Museum yang terdiri atas tiga lantai itu tidak hanya berisi biografi dan gambar-gambar Sultan Mehmed II, tapi juga memuat peta dan sejarah dari abad-abad perjalanan Konstantinopel berikut para penguasanya. Pemerintah Turki memerlukan waktu empat tahun untuk membangun museum seluas 2.500 hektare tersebut, yang melibatkan delapan pelukis terkemuka.

    Untuk memasuki museum ini, setiap pengunjung harus membayar tiket 25 lira atau sekitar Rp 125 ribu. Disediakan fasilitas audio dalam bahasa Inggris yang menceritakan isi museum. Untuk mendengar audio ini, kita mesti membayar lagi 5 lira. Sebaiknya, sebelum mengunjungi museum, kita membaca dulu riwayat Sultan Mehmed dan Kekaisaran Romawi Timur.

    L.R. BASKORO

    Baca juga: Sensasi Domba Lunak ala Turki

    Anak Suriah Gratis Masuk Gimnasium di Turki, Begini Kisahnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika Liku Crazy Rich Asians

    Film komedi romantis Crazy Rich Asians menarik banyak perhatian karena bersubjek keluarga-keluarga superkaya Asia Tenggara. Berikut faktanya.