Rabu, 23 Mei 2018

Di Istana Musim Panas Beijing Turis Menyaksikan Perbedaan Musim

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kompleks Summer Palace Beijing, lokasi acara ibu negara KTT Apec, Beijing, Selasa 11 November 2014. TEMPO/Ananda Teresia

    Kompleks Summer Palace Beijing, lokasi acara ibu negara KTT Apec, Beijing, Selasa 11 November 2014. TEMPO/Ananda Teresia

    TEMPO.CO, Jakarta - Istana Musim Panas (Summer Palace) atau Yiheyuan di perbukitan pinggiran Beijing, tepatnya di Distrik Haidian,  sangat elok dikunjungi justru pada saat musim dingin seperti sekarang. Di sana ada telaga seluas 2,9 kilometer persegi yang membeku seperti danau Shichahai. 

    Baca juga: Meluncur di Atas Danau Beku Shichahai di Beijing

    Istana Musim Panas ini menjadi salah satu favorit wisatawan asing untuk merayakan Tahun Baru. 

    Komplek Istana Musim Panas  menyerupai bentuk kura-kura. Kuil menjadi bagian kepala. Sedangkan jembatan mewakili leher dan pulau kuil sendiri menjadi tubuh kura-kura.

    Summer Palace menjadi tempat tinggal Kaisar Dinasti Qing yang dibangun pada 1115M oleh Dinasti Qing. Meskipun areal istana tertutup, namun pengunjung bisa mendatangi komplek Summer Palace. Awalnya dahulu Kaisar hanya mengunjungi pada musim panas saja. Suhu yang mencapai 42 derajat membuat Kaisar memutuskan menghijaukan Summer Palace.

    Keunikan Summer Palace, salah satunya pengunjung bisa mengalami perbedaan suasana Summer Palace. Musim semi, kembang-kembang mekar di hampir seluruh komplek Summer Palace.

    Ketika musim dingin tiba, pengunjung bisa menyaksikan perubahan Danau Kunming. Layaknya film Froozen, Danau Kunming di depan istana berubah menjadi beku. Namun pengunjung dilarang melakukan kegiatan ice skeating di sini.

    Jika ingin berkgaiatan olah raga di permukaan danau yang mebeku, pelancong akan mendatangi Danau Shichahai. Lokasinya ada di pusat kota, tidak jauh dari Kota Terlarang dan Lapangan Tiananmen, objek wisata terpadat di Beijing.

    Bahkan Shichahai bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari kedua objek wisata tersebut. 

    Objek wisata itu juga bisa langsung ditempuh dengan kereta bawah tanah (subway/MRT) Line 8 turun di Stasiun Shichahai atau Line 6 turun di Stasiun Beihai dengan tarif 4 hingga 6 RMB (Rp8.000-Rp12.000) untuk sekali jalan. 

    Begitu keluar dari kedua stasiun kereta bawah tanah itu, pengunjung langsung dapat melihat permukaan danau. 

    Selain kereta bawah tanah, Shichahai juga dapat ditempuh dengan bus kota nomor 5, 60, 107, dan 124 turun di halte Gulou. 

    Atau bisa juga dengan menggunakan bus nomor 13, 111, 118, 609, dan 623 turun di halte Beiahai Beimen. Menggunakan bus kota di Beijing tarifnya 2 RMB (Rp4.000) dengan uang pas, namun lebih murah dengan kartu isi ulang karena hanya 1 Reminbi atau RMB (Rp2.000) untuk sekali jalan. 

    Setiap pengunjung Shichahai dikenai tarif 60 RMB (Rp120.000) untuk sekali masuk dan bisa sepuasnya menggunakan alat peluncur dan sepeda es tanpa dikenai biaya lagi. 

    "Beijing kondusif untuk skating, olahraga favorit saya dan ini untuk pertama kalinya saya melihat Danau Shichahai membeku," kata Olga Marianova, pelajar asal Rusia, saat di sela-sela berseluncur bersama teman sebayanya.

    ANTARA

    Berita lain:

    Melancong Pantai Mandalika, Ini Titik-titik Keren untuk Ber-selfie

    7 Penginapan Unik di Asia Rekomendasi Wisata 2018


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Teror di Indonesia Meningkat, RUU Anti Terorisme Belum Rampung

    RUU Anti Terorisme tak kunjung rampung padahal Indonesia telah menghadapi rangkaian serangan dalam sepekan, dari tanggal 8 sampai 16 Mei 2018.