Mengenal Kehidupan Putera-Puteri Keraton di Museum Ullen Sentalu

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Relief di museum Ullen Sentanu, Yogyakarta. Tempo/Ika Chandra

    Relief di museum Ullen Sentanu, Yogyakarta. Tempo/Ika Chandra

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Hawa dingin menyergap saat pengunjung memasuki areal Museum Ullen Sentalu yang rimbun dengan pepohonan. Topeng-topeng dengan berbagai warna dan karakter serta satu arca besar menemani pengunjung saat menunggu giliran untuk mengikuti tour guide berkeliling museum yang berada di Kaliurang, Yogyakarta itu.

    “Tidak diperbolehkan mengambil foto selama tour di museum. Ada tempat foto khusus di area terakhir,” ujar pemandu dengan logat Jawa yang medok. Selanjutnya ia mengajak pengunjung mengikuti langkahnya menjelajahi museum, dengan memasuki areal bawah tanah dengan dinding batu yang dingin.

    Jalan untuk menuju  berbagai ruang di museum dengan luas 1,2 hektare ini berkelok-kelok mirip labirin. Pemandu bilang, ini melambangkan kehidupan yang penuh liku-liku seperti halnya labirin. Jika gerbang depan gedung ini tampak tinggi menjulang, maka ruang-ruang dalam museum kebanyakan memiliki langit-langit rendah dengan pencahayaan temaram.

    Ullen Sentalu memiliki beberapa ruangan yang menyimpan berbagai koleksi keluarga istana di tanah Jawa. Dari museum ini, pengunjung bisa mengetahui sejarah kerajaan Mataram yang terpecah menjadi empat kekuasaan di Yogyakarta dan Solo pada zaman penjajahan Belanda.

    ADVERTISEMENT

    Sejarah berbagai unsur budaya Jawa seperti topeng, batik, busana, atau tari-tarian juga ditampilkan. Topeng putih, melambangkan tokoh baik, merah berarti tokoh jahat, sedangkan hitan adalah tokoh dewa atau dewi.

    Batik Solo dan Batik Yogya yang tampak sama namun ternyata memiliki perbedaan, mengandung arti pada tiap motifnya. Tarian hasil ciptaan raja-raja ditampilkan dalam bentuk lukisan di museum. 

    Museum ini memiliki koleksi berupa lukisan, foto-foto tokoh kerajaan, kain batik, arca, alat musik tradisional,  hingga surat-surat milik putera-puteri keraton dari tanah Jawa. Benda-benda ini mengungkap serpihan cerita di masa lalu tentang kehidupan raja-raja dan putera mahkota.

    Kisah-kisah ini mungkin sebagian tidak pernah diungkap sebelumnya kepada masyarakat. Ada kisah raja yang tak satu pun istrinya tidak menjadi permaisuri, ratu yang selalu membawa kunci gembok ruang pusaka, atau cerita cinta seorang puteri lewat puisi-puisi.

    Gaya hidup puteri raja kerajaan nusantara zaman dahulu bagai hadir secara visual, tidak kalah dengan kisah-kisah imajinasi puteri Disney yang dikenal masyarakat saat ini.  Pengunjung seperti menelusuri masa lalu bersentuhan dengan kehidupan istana Jawa abad 18.

    Ullen Sentalu berasal dari kalimat “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku”, yang berarti nyala lampu blencong sebagai penerang jalan kehidupan manusia. Museum pribadi ini didirikan oleh keluarga Haryono, yang mulai dibangun pada 1985  dan dibuka untuk umum pada 1997.

    Koleksi museum yang berlokasi di Kaliurang Barat, Sleman ini berasal dari hibah pangeran dan puteri keraton.

    Untuk menikmati berbagai koleksi serta cerita sejarahnya, pengunjung bisa datang pada hari Selasa hingga Jumat pukul 8.30-16.00 dan Sabtu Minggu pukul 08.30-17.00. Sedangkan pada hari Senin museum tutup. Tiket untuk pengunjung domestik adalah Rp 40 ribu. Selain koleksi budaya, terdapat toko, café dan restoran di areal museum ini.

    IKA CHANDRA (Yogyakarta)

    Berita lain:

    Ini 5 Tempat Wisata Indonesia Timur Rekomendasi Travel-Blogger

    Libur Akhir Tahun di Manado, Jangan Lewatkan Tiga Menu Ikan Ini

    7 Situs Wisata Kuno yang Diduga Dibuat oleh Alien


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pujian dan Kado Menghujani Greysia / Apriyani, dari Sapi hingga Langganan Berita

    Indonesia hujani Greysia / Apriyani dengan sanjungan dan hadiah. Mulai dari sapi, emas sungguhan, sampai langganan produk digital. Dari siapa saja?