Nikmatnya Mencecap Kopi ala Kafe Era Kolonial di Blitar

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bekas pabrik sekaligus gudang perkebunan kopi di Karanganyar, Blitar, kini menjadi tujuan wisata baru. Tempo?Hari Tri Warsono

    Bekas pabrik sekaligus gudang perkebunan kopi di Karanganyar, Blitar, kini menjadi tujuan wisata baru. Tempo?Hari Tri Warsono

    TEMPO.CO, Blitar - Segar dan kolonial. Itu kesan pertama yang terasakan saat memasuki kawasan perkebun kopi Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Blitar.

    Dusun Karanganyar berada 12 kilometer ke arah utara dari pusat Kota Blitar. Perkebunan Karanganyar tersebut kian melengkapi agenda wisata sejarah di kawasan ini.  Sebab, tak jauh dari kebun kopi, terdapt kompleks Candi Penataran yang menjadi ikonik wisata di Blitar.

    Perkebunan kopi peninggalan Belanda ini belakangan kian memikat wisatawan dari berbagai kota. Dibuka dengan gapura Selamat Datang di depan areal perkebunan kopi, jalanan setapak yang hanya boleh dilalui pejalan kaki mengantarkan pelancong  menyusuri deretan tanaman kopi di kanan kiri.

    Setelah lima menit suasana berbeda langsung menyergap. Pemandangan kebun kopi mendadak berubah menjadi deretan bangunan kuno khas era kolonial. Bangunan itu, antara lain, pabrik pengolahan biji kopi yang sudah tak berfungsi dan sebuah rumah Loji yang terawat baik.

    Tulisan di dinding atap berbunyi “De Karanganjar Koffie plantage, Blitar, NY Harta Mulia” menjadi identitas tempat ini. Puluhan tahun silam, lokasi ini merupakan pabrik penghasil biji kopi terbaik dari Blitar. Kopi Karanganyar bahkan telah beredar hingga ke seluruh Nusantara dengan kualitas pilih tanding.

    Herry Noegroho, pengelola kawasan ini,  menjelaskan seluruh aset di sana adalah milik pemerintah yang dipercayakan kepada keluarganya untuk merawat. Tempat itu lalau disulap menjadi tempat wisata melalui konsep Hak Guna Usaha (HGU). Herry adalah bekas Bupati Blitar periode 2006 hingga 2016.

    Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di area seluas 300 hektar dan terletak di ketinggian 400-650 mdpl (meter di atas permukaan laut) itu. Mulai dari aktivitas outbond, mengendarai motor ATX, lokasi camping, hingga edukasi perkebunan.

    “Salah satu bangunannya saya pakai untuk memproduksi kopi sekaligus café, biar identitas perkebunan kopinya tidak hilang,” kata Harry.Salah satu ruang pengolahan biji kopi di Cafe Perkebunan Karanganyar, Blitar. Tempo/Hari Tri Warsono

    Café tersebut didesain dengan nuansa kolonial. Seluruh karyawan café mengenakan sepatu pantofel  dengan kaos kaki tinggi hingga selutut. Di atasnya ada celana pendek ukuran tiga perempat dipadu dengan kemeja lengan pendek plus tatanan rambut klimis ala tuan Belanda.

    Bukan sekedar gimik, aneka kuliner yang disajikan memiliki cita rasa nikmat. Tampak pengelola café tak ingin sekedar mendompleng interior untuk menarik kunjungan wisatawan. Di tempat ini, pengunjung pun bisa menyaksikan secara langsung proses pengolahan biji kopi menjadi kopi siap minum dengan berbagai jenis.

    Mereka juga bisa membeli kopi mentah untuk dibawa pulang jika tak ingin menyeduh di tempat.

    Sebagai pelengkap, sesi swafoto bisa memanfaatkan rindangnya tanaman kopi dan ornamen lawas, plus benda-benda sisa peninggalan Belanda. Selain bangunan, sejumlah kendaraan dan sisa mesin pengolah kopi bebas menjadi latar belakang foto para wisatawan.

    HARI TRI WASONO (Blitar)

    Berita lain:

    Ini 5 Tempat Wisata Indonesia Timur Rekomendasi Travel-Blogger

    Libur Akhir Tahun di Manado, Jangan Lewatkan Tiga Menu Ikan Ini

    7 Situs Wisata Kuno yang Diduga Dibuat oleh Alien


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.