Erupsi Gunung Agung, Wisata Arung Jeram di Karangasem Ditutup

Reporter:
Editor:

Nunuy Nurhayati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Loket Bali Mitra Wahana (BMW) Rafting tidak ada aktivitas setelah ditutup karena erupsi Gunung Agung/BRAM SETIAWAN

    Loket Bali Mitra Wahana (BMW) Rafting tidak ada aktivitas setelah ditutup karena erupsi Gunung Agung/BRAM SETIAWAN

    TEMPO.CO, Karangasem - Wisata olahraga arung jeram di kawasan Karangasem mulai lumpuh setelah erupsi Gunung Agung Bali. Hal tersebut dipicu lahar hujan yang bercampur dengan aliran sungai. "Saya sudah tutup sejak 25 November, karena tidak ada tamu datang setelah erupsi," kata pemilik Bali Mitra Wahana (BMW) Rafting, Wayan Sida, 66 tahun, Sabtu, 2 Desember 2017.

    Baca: Bercampur Lahar Hujan, Wisata Kali Unda Bali Pikat Pelancong

    Titik mulai BMW Rafting berada di aliran sungai Telaga Waja yang membelah perbatasan Desa Rendang dan Menanga. Aliran sungai tersebut masih jernih tidak tercampur lahar. "Hanya 6 kilometer saja jernih, setelah itu campuhan (pertemuan arus air) dengan sungai Yeh Sah, di sana sempat dilewati lahar," ujarnya.

    Hal itu yang membuat Wayan Sida harus menutup sementara kegiatan bisnisnya untuk mempertimbangkan faktor keselamatan para tamunya.

    Pada 27 November aliran sungai Yeh Sah mengental tercampur lahar. Adapun rute arung jeram yang ia tawarkan berada di dua titik lokasi berbeda. Ada yang sejauh 12 kilometer. Ada juga yang 15 kilometer. Dua jalur tersebut melintasi aliran lahar di sungai Yeh Sah.

    Berdasarkan pantauan Tempo, dua bisnis wisata olahraga arung jeram lainnya yang berada tak jauh dari BMW Rafting juga tutup. Sida mengakui bisnisnya mengalami kerugian besar. "Karyawan mogok sudah saya sarankan untuk mencari pekerjaan yang lain," katanya.

    Selain menawarkan arung jeram, kawasan BMW Rafting juga menyediakan fasilitas wisata olahraga flying fox. Itu pun, kata dia, juga harus ditutup. Alasannya pun sama, ia mengkhawatirkan kedatangan arus lahar yang tak bisa ditebak.

    "Flying fox berada di tepian sungai, itu tetap berbahaya," tuturnya. Sida memiliki pengalaman saat letusan Gunung Agung pada 1963. Ia menceritakan saat itu area persawahan yang berada di tepi sungai tempat ia kini mendirikan bisnisnya terendam lahar.

    Ia menjelaskan sebelum Gunung Agung mengalami erupsi, jumlah kunjungan perhari bisa mencapai 100 orang. Biaya arung jeram untuk satu orang seharga, Rp. 160 ribu. Sedangkan flying fox, seharga Rp. 100 ribu per orang. Bisnis arung jeram milik Wayan Sida sudah berjalan 4 tahun. Adapun flying fox baru 1 tahun.

    "Tamu banyak dari luar negeri, ada Cina, Arab, Rusia, Australia dan Kanada," katanya.

    Saat ini, ia tidak bisa menyiasati kelumpuhan pendapatan dari bisnis wisata olahraga yang dikelola bersama keluarganya. "Kami sabar menunggu, karena ini peristiwa alam. Saya sebagai pengusaha menunggu jalan keluar," ujarnya.

    Namun untuk makan sehari-hari Sida mengandalkan dari hasil padi di sawahnya seluas 60 are. Sedangkan untuk penghasilan ekonomi, ia menjual buah kelapa dan pisang di kebunnya seluas 40 are.

    Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau warga tidak beraktivitas di aliran sungai yang terdampak lahar Gunung Agung.

    Kepala Bidang Mitigasi PVMBG Gede Suantika menjelaskan arus lahar dari letusan Gunung Agung sangat berbahaya. "Itu (lahar) sifatnya mengental, menggerus sisi kiri dan kanan (sungai), karena air hujan tercampur material abu, pasir," katanya. Dia pun mengimbau para pelancong yang akan melakukan perjalanan wisata ke sana,"Jangan bermain-main di sana, sewaktu-waktu (lahar) datang sekaligus."

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.