Jejak Prasejarah di Pulau Tanimbar Masih Diteliti Lebih Jauh

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelayan mendorong perahu di Pulau Tarwa, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Pulau Tarwa yang merupakan markas nelayan keturunan Bugis ini dijadikan sebagai pulau singgah bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Tanimbar Kei. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Nelayan mendorong perahu di Pulau Tarwa, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Pulau Tarwa yang merupakan markas nelayan keturunan Bugis ini dijadikan sebagai pulau singgah bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Tanimbar Kei. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim arkeolog dari Balai Arkeologi Maluku masih menganalisa hasil riset pencarian jejak prasejarah di Pulau Fordata, Kepulauan Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Riset itu dilakukan pada awal Maret 2017 lalu.

    "Saat ini analisis masih dilakukan untuk menemukan seberapa tua usia hunian masa lalu yang ada," kata Arkelog Marlon Ririmasse di Ambon, Kamis, 9/11. Ahli kepurbakalaan itu mengatakan penelitian mencari jejak prasejarah di Fordata itu merupakan aktivitas riset arkeologis yang ketiga kalinya di salah satu pulau terdepan di Maluku tersebut.

    Sebelumnya tim peneliti dari Balai Arkeologi Maluku telah melakukan studi penjajakan jejak prasejarah di Pulau Fordata pada 2014. Riset lanjutan dilakukan pada 2015.

    Penelitian pada 2014 berhasil didata lebih dari 20 titik pengamatan, seperti indikasi situs-situs hunian prasejarah berupa ceruk dan gua, serta pemukiman kuno dari era prakolonial.

    Sedikit berbeda dengan dua penelitian sebelumnya, penelitian pada 2017 difokuskan pada survei untuk pendataan titik baru dan ekskavasi arkeologi. Tujuannya untuk menemukan data kronologi hunian masa lalu.

    Hasil riset tersebut menemukan jejak hunian yang diperkirakan berasal dari akhir prasejarah. Saat itu berhasil ditemukan aneka alat batu berukuran sedang dan kecil. Juga ditemukan himpunan fragmen tembikar dalam asosiasi dengan sampah domestik sisa konsumsi, seperti tulang ikan dan kerang.

    "Penelitian lanjutan juga masih harus dilakukan di tahun mendatang hingga gambar jelas tentang peradaban masa lalu di Pulau Fordata bisa diungkap," katanya.

    Kepala Balai Arkeologi Maluku Muhammad Husni mengatakan dari persfektif arkeologi, aktivitas penelitian kepurbakalaan di Pulau Fordata memiliki nilai strategis. Alasannya, di sana merupakan salah satu titik terdekat dengan daratan besar benua Australia sebagai titian proses migrasi manusia masa lalu.

    Selain itu, Fordata merupakan titik penting dalam sejarah budaya Kepulauan Tanimbar yang dikenal dengan profil pusaka yang telah mendunia.

    ANTARA

    Berita lain:

    Tak Cuma Rempah-rempah, Obyek Wisata Maluku Juga Menakjubkan

    Malaysia Minat Kembangkan Wisata Halal Maluku


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.