Menjajal Kereta Cepat Beijing ke Shanghai di Cina

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon penumpang melintasi kereta peluru Fuxing di Stasiun Kereta Api Beijing Selatan, Cina, 21 September 2017. Fuxing memiliki badan yang lebih luas dan hemat energi. REUTERS/Stringer

    Calon penumpang melintasi kereta peluru Fuxing di Stasiun Kereta Api Beijing Selatan, Cina, 21 September 2017. Fuxing memiliki badan yang lebih luas dan hemat energi. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Beijing - Diresmikan sehari sebelum ulang tahun ke-90 Partai Komunis Cina pada 30 Juni 2011, kereta cepat Beijing-Shanghai menjadi tanda keseriusan Cina membangun infrastruktur jalur kereta api. Bahkan, Cina menargetkan terbangunnya rel kereta sepanjang 150 ribu kilometer pada 2020, termasuk 30 ribu jalur untuk kereta api cepat.

    Dengan kecepatan 300-400 kilometer per jam, kereta peluru (bullet train) Beijing-Shanghai ini menjadi salah satu alat transportasi favorit masyarakat Cina. Jarak Beijing ke Shanghai 1.318 kilometer dapat ditempuh dalam 4,5 jam. Tempo dan rombongan jurnalis serta dosen dari Indonesia pun menjajalnya pada Senin, 30 Oktober 2017.

    Baca juga: Ide Cina One Belt One Road Akan Berdampak ke 4,4 Orang

    Kereta api cepat ini biasa disebut Fuxing. Artinya dalam bahasa Indonesia: peremajaan. Harga tiketnya beragam tergantung kelas yang dipilih. Untuk kelas bisnis harganya sekitar 1.748 yuan (Rp 3,6 juta), kelas satu 933 yuan (Rp 1,9 juta), dan kelas dua 553 yuan (Rp 1,2 juta). Tempo dan rombongan duduk di kelas dua. Adapula kereta cepat khusus perjalanan malam hari dengan harga mulai 740 yuan (Rp 1,5 juta), 690 yuan (Rp 1,4 juta), dan 386 yuan (Rp 785 juta). Untuk kereta cepat biasa disebut G Train, adapun kereta khusus perjalanan malam D train.

    Sembari menunggu kereta, Tempo mengisi perut agar tidak keroncongan di perjalanan. Di Beijing South Railway Station, terdapat banyak gerai makanan. Tetapi yang menyediakan makanan halal bisa dihitung dengan satu tangan. Toko yang menjual makanan kecil dan oleh-oleh pun tersebar di stasiun.

    Tempo mendapat kereta untuk keberangkatan pukul 15.00. Tapi antrean sudah mulai mengular sejak 14.30. Sekitar sepuluh menit sebelum keberangkatan, pintu menuju kereta dibuka. Para petugas pun memeriksa tiket yang disesuaikan dengan KTP atau paspor calon penumpang. Setelah itu calon penumpang dipersilakan menuruni tangga untuk menuju ke kereta.

    Masuk ke dalam, Fuxing terlihat bersih. Sandaran kursi bisa dimundurkan agar penumpang nyaman beristirahat. Washroom atau kamar mandinya pun tampak kinclong. Kondisi ini berbeda dengan kebanyakan WC umum di Beijing yang relatif kotor. 

    Fuxing juga menyediakan fasilitas koneksi wifi. Tapi, Anda harus meminta bantuan kepada warga setempat jika tidak paham bahasa Mandarin. Karena penjelasan untuk menghubungkan dengan wifi berbahasa Mandarin. Jangan berharap koneksinya secepat kereta peluru. Sebab, koneksinya kadang cepat, kadang lambat.

    Ketika mulai berjalan, tidak terasa kalau kereta tersebut melaju dengan kecepatan tinggi. Di papan pengumuman, tertera kecepatan kereta mencapai 347 kilometer per jam. Adapun suhu cuaca di dalam kereta 24 derajat Celsius.

    Baca juga: Memanjakan Mata di Simbol Kota Shanghai Cina

    Butuh waktu 4,5 jam untuk kereta api ini bisa mencapai Shanghai. Sebelum ke Shanghai, kereta akan berhenti sekitar 5 menit di dua stasiun: Jinan dan Nanjing. Jika lapar atau haus, Anda bisa membelinya dari petugas kereta yang menyusuri gerbong sambil menjajakan makanan serta minuman.

    Di sepanjang jalan, Anda bisa menyaksikan beragam pemandangan seperti daerah rural hingga daerah urban.

    Menurut Wang Riu Li, mahasiswa Renmin Universitas of China, kereta cepat Beijing-Shanghai sangat digemari masyarakat lantaran menghemat waktu perjalanan sekitar 2 jam jika menggunakan kereta biasa. Dia pun acap kali menggunakan kereta tersebut untuk keperluan pribadinya. “Terakhir saya memakainya dua bulan lalu,” kata dia.

    Sedangkan Secretary of International Affairs School of Journalism and Communication Renmin University of China Zhao Jin mengatakan kereta cepat lebih dipilih masyarakat ketimbang menggunakan pesawat karena biaya yang relatif lebih murah. “Selain itu menaiki pesawat terkadang tidak pasti jadwalnya lantaran cuaca,” kata dia. Beijing-Shanghai menelan waktu sekitar 2 jam dengan menggunakan pesawat.

    Sekitar pukul 19.30, atau tepat 4,5 jam, kereta akhirnya sampai di Stasiun Shanghai Hongqia. Stasiun ini juga terkoneksi dengan subway serta Bandara Hongqia. Jadi, Anda bisa naik subway untuk bisa ke pusat kota. Saatnya untuk menjelajahi Shanghai, Cina.

    KODRAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Pemakzulan Donald Trump Dari Ukraina Ke Kongres AS

    Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat mencetuskan penyelidikan untuk memakzulkan Presiden Donald Trump. Penyelidikan itu bermula dari Ukraina.