Jejak Cheng Ho di Museum Shanghai

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintas di depan Masjid Cheng Ho di Surabaya, Jawa Timur, 29 Juni 2015. Masjid yang diresmikan pada 13 Oktober 2002 tersebut bernuansa Muslim Tionghoa dan memiliki ornamen menyerupai kelenteng. ANTARA/Zabur Karuru

    Warga melintas di depan Masjid Cheng Ho di Surabaya, Jawa Timur, 29 Juni 2015. Masjid yang diresmikan pada 13 Oktober 2002 tersebut bernuansa Muslim Tionghoa dan memiliki ornamen menyerupai kelenteng. ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Shanghai – Sebuah situs travel di Amerika Serikat menyebut Museum Shanghai menjadi tempat nomor 2 yang harus dikunjungi di Shanghai, Cina, setelah The Bund.  Selain gratis tiket masuk, Museum Shanghai memiliki koleksi lebih dari 1 juta artefak.

    Tempo bersama rombongan jurnalis dan dosen dari Indonesia mengunjungi tempat tersebut, Rabu, 1 November 2017. Letaknya di People’s Square di Distrik Huangpu, Shanghai.  Gedungnya berada tidak jauh dari Municipal Hall.

    Bangunan empat lantai itu mengoleksi beragam artefak mulai dari tembikar zaman neolitikum, kaligrafi zaman Dinasti Tang, hingga furniture Dinasti Qing dan Ming. Ada sekitar 130 ribu artefak yang dianggap sebagai benda berharga.

    Salah satu eksebisi yang ada di museum tersebut adalah Galeri Barang Tembikar dan Porselen Kuno Cina. Eksebisi ini juga memamerkan benda-benda kuno Cina yang terpengaruh Islam. “Pada abad ke-14 di masa Dinasti Yuan, porselen Jingdezhen dengan corak berwarna biru ditemukan di beberapa Negara berpenduduk mayoritas Islam. Itu menandakan banyak negara-negara berpenduduk muslim yang meminati porselen Jingdezhen (nama sebuah daerah di Cina),” kata pemandu turis di Museum Shanghai.

    Bahkan, ada kendi porselen dengan desain corak awan serta naga berwarna biru dari pertengahan abad ke-15 yang dibawa Laksamana Cheng Ho ke luar Cina. Cheng Ho merupakan laksamana muslim yang memimpin ekspedisi ke pelbagai belahan Asia seperti Indonesia pada 1405 sampai 1433.

    Ada pula teko-teko kuno yang dipajang di Museum Shanghai. Teko-teko ini digunakan untuk menjaga agar air panas untuk menyeduh teh bisa tetap terjaga suhunya.

    Di eksebisi lain, terdapat beberapa perunggu peninggalan nenek moyang bangsa CIna. Beberapa perunggu tersebut digunakan untuk pengobatan atau ada juga untuk tempat arak. Salah satu yang unik adalah perunggu berbentuk sapi. Di hidung sapi tersebut terdapat cincin yang menandakan masa tersebut masyarakat setempat sudah beternak sapi.

    Museum Shanghai buka pukul 09.00 hingga 17.00. Namun, setiap Senin ditutup lantaran sedang ada renovasi. Jumlah pengunjung museum ini mencapai 8.000 orang per hari. Anda juga bisa membeli souvenir di dalamnya.

    KODRAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketentuan THR Ramadan 2021: Tidak Boleh Dicicil

    Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah telah mengeluarkan edaran THR Ramadan 2021 yang mewajibkan perusahaan membayarnya sesuai dengan undang-undang.