Jika Menjadi Cagar Biosfer, Taman Nasional Sembilang Banyak Turis

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi - Burung berjenis cerek pasir mongolia (Charadrius mongolus) menetap sementara di Semenanjung Taman Nasional Sembilang, Sungai Bungin, Banyuasin, Sumsel. Minggu (13/12). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

    Ilustrasi - Burung berjenis cerek pasir mongolia (Charadrius mongolus) menetap sementara di Semenanjung Taman Nasional Sembilang, Sungai Bungin, Banyuasin, Sumsel. Minggu (13/12). (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

    TEMPO.CO, Paelmbang - Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan Nasrun Umar mengatakan Taman Nasional Sembilang di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin  akan dijadikan cagar biosfer guna mendukung pertumbuhan ekonomi hijau. "Dalam mewujudkan program tersebut dilakukan kerja sama dengan LIPI," katanya di Palembang, Sabtu, 28/10.

    Nasrun mengatakan program tersebut juga sebagai percontohan kemitraan pengelolaan Sembilang yang dilaksanakan atas dukungan ZSL, UKCCU, NICFI, IDH, dan Yayasan Belantara, serta lainnya. “Program tersebut dijadikan model nasional dan internasional karena metodologinya sudah diakui.”

    Program ini berupaya mengevaluasi nilai bentang alam sebagai dasar investasi dalam perlindungan hutan. Semuanya dikaitkan  dengan nilai sumber daya alam dengan evaluasi potensi dan risiko. “Sumsel adalah provinsi pertama di Indonesia yang dipilih menerapkan model tersebut,” kata Nasrun.

    Taman Nasional Berbak-Sembilang dan Suaka Margasatwa Dangku memang kaya dengan keanekaragaman hayatinya. Puluhan jenis flora dan fauna dilindungi di kawasan ini, misalnya: buaya, penyu, dan siamang. Diantara yang ada, harimau Sumatera, sang penguasa rimba, adalah yang paling terkenal di sini.

    Dulu, publik mengenal hutan di pesisir Sumatera Selatan ini sebagai Taman Nasional Sembilang. Sekarang namanya berubah menjadi Taman Nasional Berbak-Sembilang dan Suaka Margasatwa Dangku. Menurut Afan Absori, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, meski kekurangan sarana transportasi, kawasan Sembilang tetap menjadi daerah tujuan para pelancong.

    Menjelang akhir tahun, kawasan ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara yang hendak menyaksikan kawanan burung migran dari Siberia. Biasanya, pengunjung menantikan saat-saat burung migran berebut ikan-ikan kecil yang terdampar di pinggiran bakau. Lainnya menikmati suara kawanan burung yang mirip dengung pesawat.

    Wisatawan diperkirakan akan semakin ramai pada tahun-tahun mendatang, manakala Sembilang sudah resmi menjadi cagar biosfer dunia.

    ANTARA | PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Resep Mudah Membuat Disinfektan Saat Wabah Virus Corona

    Ketika wabah virus corona merebak, cairan disinfektan kian diminati masyarakat. Bila kehabisan, ada cara alternatif membuat cairan anti kuman itu.