Wayang Buddha, Bukan Wayang Biasa

Reporter

Senin, 21 Juli 2014 05:57 WIB

ANTARA/Zabur Karuru

TEMPO.CO , Solo: Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo memamerkan sejumlah wayang yang berbeda dengan wayang biasa. Mereka menyebutnya sebagai Wayang Buddha. Wayang itu merupakan hasil kolaborasi para seniman di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah sekitar 40 tahun silam.

Wayang Buddha yang dipamerkan itu merupakan karya tiga seniman yang berbeda. Mereka adalah Hajar Satoto, Bambang Suwarno dan Bibit Jrabang Waluyo Wibowo. Masing-masing mewakili perkembangan dan eksplorasi Wayang Buddha.

Wayang berukuran besar menyambut pengunjung di bagian terdepan ruang pamer tersebut. Wayangnya berbentuk lebar dan menggambarkan karakter empat tokoh sekaligus. Benda yang terbuat dari kulit itu merupakan karya Hajar Satoto yang saat ini tersimpan di Museum Ronggowarsito.

Karya tersebut mewakili masa awal berkembangnya Wayang Buddha. Bentuk wayang tersebut mirip dengan wayang asal Thailand, Wayang Nang. Wayang itu dilengkapi dua tongkat sebagai pegangan bagi dalang yang memainkan. Sedangkan di bagian dalam banyak diisi dengan wayang yang berukuran lebih kecil. Tiap wayang menggambarkan karakter satu tokoh dalam cerita Sutasoma. Wayang-wayang itu hanya dilengkapi dengan satu tongkat sebagai pegangan bagi dalangnya. Di sekitar wayang itu terdapat foto-foto pertunjukan. Karya yang dipamerkan itu memang pernah dipentaskan secara spektakuler melalui kolaborasi sejumlah seniman.

Bentuk Wayang Buddha pertama kali lahir melalui tangan mendiang Hajar Satoto empat puluh tahun silam. Saat itu, Hajar Satoto membuatnya dari seng, sehingga sempat dinamakan Wayang Seng. Dia menawarkan karyanya itu kepada Suprapto Suryodarmo untuk dipentaskan.

Pementasan Wayang Seng di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah Sasana Mulya itu menarik perhatian. Suprapto meramu pertunjukannya sebagai kolaborasi seni pedalangan, musik, karawitan hingga seni rupa. Salah satunya adalah panitia peringatan Waisak yang meminta mereka untuk pentas di Candi Mendut.

Pertunjukan pada Hari Waisak di Candi Mendut itulah yang akhirnya melahirkan sebutan Wayang Buddha. "Penggunaan seng diganti dengan kulit," kata Supraprto Suryodarmo. Alasannya, wayang berbahan seng cukup berat sehingga sulit untuk dimainkan. Sebenarnya, penggunaan bahan seng memiliki kelebihan. "Saat lembaran seng digerakkan selalu memunculkan suara-suara aneh," katanya melanjutkan.

Wayang karya Hajar Satoto itu kemudian dipentaskan juga di Pekan Penata Tari Muda di Taman Ismail Marzuki pada 1978. Pementasan tersebut mendapat sambutan yang sangat besar dari para penonton. Wayang Buddha masih sering dipentaskan hingga sekitar 1982. Pentunjukan wayang itu mulai berhenti karena Suprapto mulai sering pergi ke Eropa. Baru kemudian 2006 Wayang Buddha kembali dipentaskan. Pementasan saat itu menggunakan wayang yang dibuat oleh Bambang Suwarno.

Karya Wayang Buddho kembali dipentaskan lagi di Borobudur Internasinal Festival 2013 lalu. Pementasan tersebut dilakukan oleh generasi baru tanpa keterlibatan para perintis Wayang Budhha. Pertunjukkan tersebut menggunakan wayang yang dibuat oleh Bibit Jrabang Waluyo Wibowo. (baca: Sensasi Lima Dalang Wayang Golek Pesisiran)

AHMAD RAFIQ



Baca berita lainnya:
Jelajahi Waktu di Museum Tengah Kebun
Mengulik Lima Kisah Klasik di Relief Candi Jago
Sensasi Lima Dalang Wayang Golek Pesisiran

Berita terkait

Cerita Wayang Kulit Indonesia yang Digemari di Luar Negeri

20 November 2021

Cerita Wayang Kulit Indonesia yang Digemari di Luar Negeri

Wayang kulit merupakan salah satu karya adiluhung Indonesia telah diakui oleh UNESCO melalui penetapan resmi pada 2003.

Baca Selengkapnya

Jadi Hiburan, Wayang Potehi pun Digelar dengan Guyonan ala Jawa

21 Januari 2019

Jadi Hiburan, Wayang Potehi pun Digelar dengan Guyonan ala Jawa

Wayang potehi dipentaskan pada 20-21 Januari dalam perayaan ulang tahun Hok Tek Ceng Sin, atau Dewa Bumi untuk kemakmuran dan jasa.

Baca Selengkapnya

Pesan di Balik Cerita Wayang Kulit pada Ulang Tahun ke-7 NasDem

11 November 2018

Pesan di Balik Cerita Wayang Kulit pada Ulang Tahun ke-7 NasDem

Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk ini digelar pada hari ke-2 perayaan ulang tahun NasDem di Karanganyar, Jawa Tengah.

Baca Selengkapnya

Ulang Tahun NasDem ke-7 Diwarnai Pertunjukan Wayang Kulit

11 November 2018

Ulang Tahun NasDem ke-7 Diwarnai Pertunjukan Wayang Kulit

Acara ulang tahun NasDem di Karanganyar, Jawa Tengah, akan ditutup dengan pembekalan calon legislatif partai di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Baca Selengkapnya

Dalang Favorit Jokowi Meriahkan Pagelaran Wayang di Ultah PDIP

27 Januari 2018

Dalang Favorit Jokowi Meriahkan Pagelaran Wayang di Ultah PDIP

Menurut panitia acara pagelaran wayang, Ki Purwo Asmoro yang tampil di acara ulang tahun PDIP ini adalah dalang favorit Presiden Jokowi.

Baca Selengkapnya

Megawati Soekarnoputri Hadiri Pagelaran Wayang di Tugu Proklamasi

27 Januari 2018

Megawati Soekarnoputri Hadiri Pagelaran Wayang di Tugu Proklamasi

Megawati mulai menyukai wayang sejak kecil karena ayahnya, Presiden RI ke-1 Soekarno kerap menggelar pertunjukan wayang di Istana.

Baca Selengkapnya

Wayang Kulit Ambil Bagian dalam Festival Europalia di Belgia

11 November 2017

Wayang Kulit Ambil Bagian dalam Festival Europalia di Belgia

Wayang kulit menjadi salah satu benda seni yang dipamerkan dalam rangkaian Festival Europalia Indonesia di museum Kota Binche.

Baca Selengkapnya

Ada Wayang Kulit dalam Star Trek: Discovery, Karakter Siapa?

26 September 2017

Ada Wayang Kulit dalam Star Trek: Discovery, Karakter Siapa?

Ada wayang kulit dalam serial televisi Star Trek: Discovery episode terbaru yang tayang pada akhir pekan lalu.

Baca Selengkapnya

PT KAI Sumbang Wayang Orang Sriwedari Solo Uang Rp 223 Juta

7 Juli 2017

PT KAI Sumbang Wayang Orang Sriwedari Solo Uang Rp 223 Juta

Pada Maret lalu, PT KAI juga menyerahkan bantuan senilai Rp 150 juta untuk gedung kesenian itu.

Baca Selengkapnya

Opera Ramayana: Murka Rahwana di Hari Raya

3 Juli 2017

Opera Ramayana: Murka Rahwana di Hari Raya

Lakon Rama Tambak dalam Opera Ranayana ini tak hanya menyuguhkan konflik antar-kerajaan, tapi juga menyelipkan pesan-pesan lingkungan.



Baca Selengkapnya