Sabtu, 27 Februari 2021

Gorontalo Karnaval Karawo Mengundang Wisatawan Dunia

Reporter:

Non Koresponden

Editor:

Ludhy Cahyana

Senin, 7 Oktober 2019 10:15 WIB

Gorontalo Karawo Festival menampilkan busana karnaval yang terinspirasi kain karawo. Foto: @fhianputrahilimi

TEMPO.CO, Gorontalo - Gorontalo Karnaval Karawo menjadi etalase promosi pariwisata. Pasalnya, perhelayan tahunan itu menjadi wadah yang menyatukan masyarakat, yang memiliki seni kain karawo sebagai wastra khas daerah tersebut.

Gorontalo Karnaval Karawo 2019, yang diselenggarakan di sepanjang jalan protokol, Jl. Sultan Hassanudin dan sekitarnya, memasuki penyelenggaraan ke-9 kalinya. Bahkan perhelatan dua tahun terakhir masuk dalam 100 Calender of Event Kementerian Pariwisata.

“Tahun ini, Gorontalo Karnaval Karawo mengangkat tema Wonderful Celebes,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo, Budi Widi Hartanto, sebagai pihak inisiator penyelenggara pada pembukaan acara puncak Gorontalo Karnaval Karawo di depan Rumah Dinas Bupati Gorontalo, Minggu (6/10/2019).

Advertising
Advertising

Pada acara puncak, warga dari berbagai kalangan bergotong royong mengadakan karnaval. Rangkaian acara Gorontalo Karnaval Karawo telah dilaksanakan sejak 2-6 Oktober 2019. Acara yang telah dilaksanakan yakni Mo “Karawo” Design Training, Karawo Fashion Contest, Mo “Karawo” Tradisional Handmade, Gorontalo Culinary Expo, Celebes Tourism Meeting, serta Gorontalo Karnaval Karawo.

“Gorontalo Karnaval Karawo dilaksanakan untuk melestarikan kain karawo agar keberadaannya terus mendapat perhatian masyarakat. Pada awal tahun 2000-an, nama kain karawo sudah hampir tidak terdengar. Lalu sejak 2009, dengan diinisiasi oleh Pemda setempat dan didukung oleh Bank Indonesia, diadakanlah Karnaval Karawo. Sejak saat itu, kain Karawo mulai banyak digunakan,” katanya.

Gorontalo Karawo Festival menampilkan busana karnaval yang terinspirasi kain karawo. Foto: @haristb

Dia menambahkan, momentum itulah yang menggerakkan berbagai perubahan yang dilakukan para perajin, mulai dari peningkatan kualitas bahan, penambahan jumlah model, hingga perubahan cara pemasaran.

<!--more-->Selain itu, keberadaan Gorontalo Karnaval Karawo diharapkan dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat setempat melalui pariwisata. Saat ini, capaian sumbangan sektor pariwisata terhadap PDB Gorontalo hanya mencapai 3,5 persen.

Pada 2019, kain Karawo telah memiliki daya pikatnya tersendiri, berbagai usaha produksi serta pemasaran yang dilakukan para pengrajin kain mendapat dukungan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta BUMN di Gorontalo. Perkembangan inilah yang kemudian menginspirasi Pemda Gorontalo untuk menjadikan Karnaval Karawo sebagai agenda tahunan.

Sementara itu, Wakil Gubernur Gorontalo, Idris Rahim, menyatakan pihaknya telah melakukan berbagai promosi pariwisata. Meski melalui banyak tantangan, Gorontalo terus memperbaiki atraksi, amenitas, dan aksesibilitas pendukung pariwisata. Tujuannya, selain mendatangkan wisatawan juga agar masyarakat Gorontalo bangga dengan daerahnya.

“Selain itu, kami juga melaksanakan saran Menteri Pariwisata untuk membentuk komunitas yang dapat menciptakan masyarakat pariwisata. Dari situ, kita bisa melakukan banyak pengembangan wisata hingga promosi daerah dengan melibatkan masyarakat,” kata Idris.

Menteri Pariwisata Arief Yahya bangga dengan penyelenggaraan Gorontalo Karnaval Karawo 2019. Dia mengapresiasi seluruh rangkaian acara serta keterlibatan masyarakat di dalamnya. Arief juga memuji komitmen Kepala Daerah, dalam hal ini Gubernur Gorontalo yang telah merencanakan secara matang pelaksanaaan 54 event pada 2020.

“Saran saya adalah perhatian dan anggaran harus dilakukan pada dua hal yakni persiapan acara serta promosi. Acara yang bagus akan bisa mendatangkan banyak pengunjung jika promosi yang dilakukan juga bagus,” ujar Arief. Ia meyakini Gorontalo mendapat lebih banyak wisatawan dengan adanya berbagai perhelatan karnaval. “Apalagi pada 2020 ada 54 event pariwisata. Saya berpesan agar promosinya dilakukan secara besar –besaran,” ujar Menpar.

Gorontalo Karawo Festival digunakan untuk mempromosikan seni tenun karawo, yang satu dekade lalu nyaris hilang dari budaya warga. Foto: @haristb

Arief Yahya yakin setiap penyelenggaraan festival atau karnaval dapat dibuat berkelas dunia. Penyelenggara dapat mendatangkan kurator kelas dunia seperti Deny Malik, yang telah sukses mengorkestrasi berbagai karnaval besar.