Selasa, 13 November 2018

Menyusuri Sejarah Marinir di Pantai Jalur Daendels

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pantai Pasir Putih merupakan salah satu tujuan wisata di Situbondo, Jawa Timur, 15 Mei 2015. Pantai ini merupakan tempat wisata tertua di tepi Jalan Raya Pos Daendels. TEMPO/Ika Ningtyas

    Pantai Pasir Putih merupakan salah satu tujuan wisata di Situbondo, Jawa Timur, 15 Mei 2015. Pantai ini merupakan tempat wisata tertua di tepi Jalan Raya Pos Daendels. TEMPO/Ika Ningtyas

    TEMPO.CO, Tegal - Sebuah tank bertipe Plavayushchiy Tank 76 (PT-76) menyambut wisatawan yang hendak mengisi liburan di Pantai Alam Indah (PAI) Kota Tegal. Moncong meriam kendaraan tempur berlapis baja itu tepat mengarah ke gerbang tempat pemungutan retribusi (TPR).

    Tidak perlu takut. Tank milik Marinir-TNI Angkatan Laut itu adalah salah satu koleksi Monumen Bahari yang berada di dalam kawasan obyek wisata Pantai Alam Indah (PAI). Dalam prasastinya dijelaskan tank buatan Rusia pada 1961 itu pernah dipakai dalam operasi Tri Komando Rakyat (Trikora), Timor-Timur, Gerakan Operasi Militer Aceh, dan lain-lain.

    Monumen Bahari diresmikan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdjiatno, Wali Kota Tegal Adi Winarso, dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih pada 20 Desember 2008. Bangunan fisik monumen seluas 5.000 meter persegi itu menyerupai kapal perang haluan menghadap ke selatan.

    Layaknya kapal tempur sungguhan, bangunan haluan Monumen Bahari itu juga dilengkapi jangkar besar dan rantai. Tinggi jangkarnya mencapai dua meter. Jangkar dan rantai buatan Amerika pada 1957 itu pernah dipasang pada kapal perang (KRI) Jayawijaya yang juga buatan Amerika.

    Di belakang bangunan haluan Momunen Bahari terdapat dua senjata pertahanan udara. Pertama, senjata anti-serangan udara jenis Mounting Sea Cat buatan Belanda pada 1963, lengkap dengan empat peluru kendali (rudal). Kedua, meriam kaliber 85 milimeter versi darat buatan Rusia pada 1963.

    Adapun bangunan dua lantai di tengah monumen, yang bentuknya mirip ruang kemudi kapal tempur, belum bisa diakses wisatawan. “Masih kosong soalnya,” kata salah satu petugas TPR PAI, Giarto, pada Jumat, 14 Mei 2015. Kendati demikian, wisatawan masih bisa meneruskan perjalanan menyusuri “geladak” monumen bagian belakang.

    Selain senjata anti-serangan udara Mounting Sea Cat lengkap dengan empat rudal, belakang Monumen Bahari juga terpasang lima torpedo (senjata bawah air yang diluncurkan kapal selam), dan dua ranjau tanduk buatan Rusia pada 1962. Di anjungan museum, terdapat sebuah pesawat Nomad dan kendaraan tempur Pintam BRDM.

    Dalam prasastinya, pesawat Nomad buatan Australia pada 1974 itu pernah dipakai Marinir sebagai pesawat intai. Adapun kendaraan tempur Pintam BRDM yang mirip tank namun beroda empat ban utama dan empat ban samping itu buatan Rusia pada 1960.

    Untuk menyusuri Monumen Bahari, wisatawan tidak dipungut retribusi lagi. “Gratis. Cukup membayar tiket masuk PAI saja,” kata Giarto. Di hari biasa, tiket masuk PAI hanya Rp 500 untuk anak-anak dan Rp 1.000 untuk orang dewasa. Di hari libur, tiket masuk untuk anak-anak Rp 1.000 dan Rp 1.500 untuk orang dewasa.

    Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda, Olahraga, Seni Budaya, dan Pariwisata Kota Tegal, Sony Sontany, mengatakan murahnya tiket masuk PAI itu sudah termasuk premi asuransi Rp 300 per orang. “PAI itu obyek wisata termurah di Pantura karena perda (tentang retribusi) belum direvisi,” kata Sony pada Sabtu, 15 Mei 2015.

    Setelah puas berfoto di Monumen Bahari yang memajang sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) bekas sumbangan TNI AL, wisatawan bisa menyeberang jalan menuju wahana Water Boom. Di hari biasa, tiket masuknya Rp 4.000 untuk anak-anak dan Rp 6.000 untuk orang dewasa. Khusus pada hari libur, tiketnya naik Rp 2.000.

    Sayangnya, wahana dengan dua perosotan itu tidak dibuka setiap saat. “Biasanya baru buka pada sore,” kata Sony. Rencananya, kolam ikan di selatan wahana Water Boom akan dimanfaatkan untuk wahana sepeda air. “Realisasinya akhir tahun ini,” kata Sony.

    Sony menambahkan, Pemerintah Kota Tegal bekerjasama dengan Pangkalan TNI AL Tegal untuk “menghidupkan” gedung Monumen Bahari dengan sejumlah koleksi baru pada akhir 2015. Koleksi baru itu seperti foto-foto lawas yang menggambarkan cikal bakal pembentukan TNI AL di Tegal, buku-buku sejarah, hingga miniatur kapal-kapal perang.

    Setelah menyusuri Monumen Bahari atau bermain air di Water Boom, wisatawan bisa menikmati angin laut di kursi-kursi taman pada pantai sepanjang 600 meter yang teduh oleh rimbunnya pohon cemara. Warung-warung makan berderet rapi, menyajikan beraneka ragam menu dengan harga murah.

    Obyek wisata Pantai Alam Indah sangat mudah diakses karena gerbangnya tepat berada di pinggir Jalur Pantura Jalan Yos Sudarso, Kota Tegal, atau sekitar 500 meter di timur Pelabuhan Tegal. Jarak gerbang itu dengan pos TPR PAI hanya sekitar 500 meter.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?