Selasa, 13 November 2018

Gubernur Jenderal Bertangan Besi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Herman Willem Daendels, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Youtube.com

    Herman Willem Daendels, Gubernur-Jenderal Hindia Belanda. Youtube.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Herman Willem Daendels adalah sosok kuat yang tidak ragu menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Banyak orang menjadi korban demi ambisinya, termasuk membangun Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

    Daendels lahir di kota kecil Hattem, Gelderland, Belanda, 21 Oktober 1762, sebagai anak kedelapan dari 13 bersaudara keluarga Burchard Johan Daendels dan Josina Christina Tulleken. Tempo sempat mengunjungi bekas rumah masa kecil Daendels di Hattem. Tak banyak informasi yang menyebutkan bagaimana Daendels melewati masa kecil hingga remajanya di Hattem.

    Boleh dibilang, namanya dicatat warga kota ketika dia aktif dalam gerakan kelompok patriot Belanda. Ini adalah gerakan kaum muda Belanda yang sangat terpesona oleh perjuangan kelompok patriot Prancis yang menggulingkan kekuasaan Louis XVI. Gerakan kelompok itu mempengaruhi Daendels ketika dia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Harderwijk pada 1781. Dia mengikuti kuliah guru besar hukum patriot, P.A. Roscam. Ia berkenalan dengan gagasan-gagasan ketatanegaraan dan filsafat modern serta demokratisasi.

    Lulus kuliah, Daendels pulang ke kota kelahirannya, Hattem, dan mulai berkecimpung di gerakan patriot lokal. Bersama kaum patriot Belanda, Daendels melakukan upaya penggulingan kekuasaan terhadap Stadhouder (kepala negara) Pangeran William Oranye V, yang anti-Revolusi Prancis. “Pada 1780-an di Belanda terjadi konflik antara pihak Oranye yang anti-Napoleon dan kelompok patriot yang kagum terhadap Revolusi Prancis dan menentang kekuasaan hierarkis,” kata Dr Nico Schulte Nordholt, guru besar Universitas Twente, Belanda, dan peneliti tentang Indonesia, kepada Tempo.

    Upaya kudeta itu bisa digagalkan Pangeran William V. Daendels melarikan diri ke Dunkerque, Prancis Utara. Di sana, dia bergabung dengan Legiun Pasukan Asing Prancis (Legion Etrangere) pimpinan Napoleon Bonaparte dan adiknya, Louis Napoleon. Setelah pasukan gabungan Prancis-Belanda berhasil mendesak Pangeran William V keluar dari Belanda, Daendels kembali ke Belanda.

    Tatkala Louis (Lodewijk) Napoleon menjadi Raja Belanda itulah ia mengirim Daendels ke Jawa. Daendels diangkat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Raja Louis memberikan dua titah utama kepada Daendels: menyelamatkan Jawa dari serangan Inggris dan membenahi sistem administrasi di Jawa.

    “Daendels dianggap dapat memperjuangkan kepentingan dan membela martabat Prancis di Hindia Timur,” kata Djoko Marihandono, sejarawan yang meneliti hubungan antara Prancis dan koloninya di Hindia Timur. Menurut Djoko, Daendels satu-satunya jenderal di mata Louis yang dianggap mampu mempertahankan Jawa tak dicaplok Inggris dan bisa memperbaiki sistem administrasi pemerintahan di Hindia Belanda. “Raja Louis khawatir terhadap masa depan Pulau Jawa, terutama setelah Isle de France dan Mauritius jatuh ke tangan Inggris pada 1807,” ujar Djoko. Sebelum bertolak ke Jawa, Daendels menghadap Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte di Istana Tuileries, Paris.

    Pada 5 Januari 1808, Daendels selamat sampai di Jawa. Daendels, yang menggantikan Gubernur Jenderal Albertus Henricus Wiese, segera membangun sekolah militer di Batavia dan mendirikan Benteng Lodewijk di Surabaya. Dia juga merombak administrasi pemerintahan. “Ia melakukan pengontrolan ketat atas para pejabat, dan sesungguhnya melakukan pemberantasan korupsi,” kata Djoko.

    Menurut Djoko, Daendels menaikkan gaji pegawai pemerintah, tapi tak memperbolehkan mereka berdagang. Ia juga melarang semua pegawai menerima atau mengirim parsel kepada atasan. Daendels pun melarang para bupati, residen, dan pegawai menjadi agen kopi atau lada, untuk menghindari kecurangan mempermainkan bobot timbangan. Ia juga mengeluarkan peraturan larangan pembalakan liar. Kayu dari daerah disimpan di gudang pemerintah dan diberi kode-kode resmi. Barang siapa membawa kayu tanpa kode akan diberi sanksi keras.

    Sejarawan asal Inggris, Peter Ramsay Carey, 67 tahun, menyebut Daendels sosok kuat yang tidak ragu menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuannya. Banyak orang menjadi korban demi ambisinya. “Dia mengeksekusi orang yang menghalangi jalannya atau mengecewakannya lewat grup tembak,” ujar Carey.

    Daendels mengawali pembangunan jalan raya itu dengan memerintahkan perbaikan dan pelebaran jalan Anyer-Batavia, yang saat itu sudah ada. Sebelum jalan itu diperkeras dan dilebarkan, waktu tempuh Anyer-Batavia mencapai empat hari. Setelah jalannya diperbaiki, Anyer-Batavia bisa ditempuh hanya dalam sehari. Perbaikan jalan ini relatif mudah karena medannya datar.

    Pembangunan Jalan Raya Pos Batavia-Buitenzorg (Bogor) juga tak menemui kesulitan berarti. Menurut Sobana Hardjasaputra, 71 tahun, sejarawan dari Universitas Padjadjaran, Bandung, ruas Anyer-Bogor merupakan hasil perbaikan jalan lama yang sudah ada. “Jalan Pos di ruas itu sebagian besar merupakan pelebaran jalan setapak,” katanya.

    Lain halnya ketika mengerjakan ruas Buitenzorg-Karangsambung di Karesidenan Cirebon sepanjang 250 kilometer. Jalan ini terdiri atas ruas Cisarua-Cianjur-Rajamandala-Bandung-Parakanmuncang-Sumedang-Karangsambung. Jalan yang dibangun sebagian besar merupakan jalan baru, menembus hutan belantara, perbukitan berbatu cadas, dan gunung-gunung tinggi.

    Di wilayah Bandung, misalnya, Jalan Pos yang dibuat warga harus menembus hutan. Pepohonan besar ditebang. Dari gambar arsip, batang-batang kayu tebangan itu diangkut oleh gajah. Menurut Sobana, saat itu diperkirakan masih ada gajah di Jawa, termasuk di Bandung dan sekitarnya. Mengacu pada petunjuk dari nama tempat, kata Sobana, ada daerah bernama Leuwigajah atau “kubangan gajah” di Cimahi. “Lalu Palimanan di Cirebon. Liman kan artinya gajah,” ujarnya.

    Setelah pembangunan sampai ke Karangsambung, Residen Cirebon mengajukan permohonan agar pekerjaan diteruskan melewati karesidenannya. Demikian pula Residen Pekalongan. Jalan Raya Pos semakin panjang, menyusuri pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur, hingga berakhir di Panarukan. Korban pun terus berjatuhan. “Makanya Daendels dikenal sebagai ‘Mas Galak’. Selama pembangunan Jalan Pos, tak segan dia membentak pekerja. Ia marsekal besi,” kata Sobana.
        
    Jalanan itu sendiri kemudian termasuk yang terbaik dan terpanjang di dunia pada masanya. “Sama dengan jalan raya Amsterdam-Paris,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels.

    TIM TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?