Selasa, 13 November 2018

Beginilah Imlek Ala Batavia Tempo Dulu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pedagang saat merapihkan lampu lampion sebagai pernak penik Imlek di kawasan Glodok, Jakarta, Selasa (10/1). TEMPO/Aditia Noviansyah

    Seorang pedagang saat merapihkan lampu lampion sebagai pernak penik Imlek di kawasan Glodok, Jakarta, Selasa (10/1). TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO , Jakarta - Lain dulu lain sekarang. Begitu kata orang. Kota Jakarta yang dulunya bernama Batavia ini rupanya menyimpan sejarah menarik mengenai Imlek pada periode 1950-an. Orang Betawi ternyata ikut serta dalam perayaan Imlek, tak seperti sekarang. Begini cerita budayawan Betawi, Ridwan Saidi, kepada Tempo.

    Pada kalender Cina terdapat perayaan penting seperti Imlek di hari pertama, Cap Gomeh di hari ke-15, Ceng Beng pada hari ke-60, lalu Peh Cun pada hari ke-100, dan Cit Gwee di bulan ke 7. "Perayaan tersebut dirayakan besar-besaran tidak hanya oleh orang Cina, tapi juga oleh orang Betawi," tutur Ridwan.

    Perayaan Imlek dimulai pada malam sebelumnya, hampir sama dengan malam takbiran orang Islam. Pada malam itu orang Cina pergi soja (membakar hio) sembahyang, dan membeli keperluan Imlek. Biasanya orang Cina yang keluar rumah membeli kembang sedap malam di Pasar Baru Tangerang. Tapi beberapa juga ada yang sembahyang di rumah masing-masing.

    Kegiatan di Pasar Baru Tangerang pada malam Imlek sangat ramai dikunjungi orang Cina dan Betawi. Tempat tersebut merupakan pusat kegiatan pasar malam Imlek. Kebanyakan datang untuk membeli kue keranjang (tiong ciu pia), kembang sedap malam, dan Patung Dewi Kwan Im. Selain di Pasar Baru Tangerang juga terdapat tempat lain seperti di Glodok, Mester, Senen.

    Pada malam Imlek juga ada tradisi tidak boleh membersihkan rumah mereka karena kalau dibersihkan dulu sebelum Imlek tidak akan dapat rezeki. "Kalau nyapu duluan, rezekinya ikut kesapu," kata Ridwan.

    Biasanya orang Betawi menghibur orang Cina dengan cara ngamen menyanyikan lagu keroncong, gambang kromong. Setelah menghibur, mereka mendapatkan uang angpao dan kue dodol dari orang Cina. Wilayah arak-arakan terdapat di seluruh wilayah kampung Betawi seperti Mangga Besar, Kwitang, Kota, Kebon Jeruk. Tidak hanya menghibur, orang Betawi juga memberikan ucapan selamat kepada orang Cina yang merayakan.

    Pada saat Cap Gomeh, orang Cina pergi soja ke Pekonga alias rumah ibadah Konghucu. "Mereka melakukan arak-arakan dari pekong di Mester ke Senen lalu ke Pasar Baru sampai ke pusatnya di Glodok," kata Ridwan.

    Pada saat itu juga diadakan pesta yang juga diramaikan oleh orang-orang Betawi. Ridwan ingat betul pada saat arak-arakan ke Pekong sore hari pasti muncul Jeng Ge yang selalu dinanti-nanti masyarakat. Jeng Ge adalah sebutan wanita cantik memakai baju terusan panjang yang mirip baju Timur Tengah, dan berparas cantik lengkap dengan riasan wajah. Jeng Ge diarak di atas tandu yang megah, sehingga banyak yang terpukau. Wanita yang jadi Jeng Ge pasti merupakan wanita pilihan oleh pihak pusat kelenteng.

    Setelah Cap Gomeh, pada hari ke-60 sampai ke-90 diadakan perayaan Ceng Beng. Pada saat Ceng Beng, orang Cina akan ziarah ke kuburan keluarganya. Sedangkan di saat yang sama orang-orang Betawi dan Melayu dipanggil ke rumah orang Cina untuk menangisi arwah leluhur mereka. "Orang Betawi diminta tolong nangisin arwah leluhur di rumah orang Cina tersebut, pas pulang bisa dapet pakaian-pakaian dan borsak (kasur)," kata Ridwan.

    Memasuki hari ke-100, orang Cina akan merayakan Peh Cun. Pada perayaan ini diadakan kegiatan makan bakcang yaitu nasi berbentuk prisma segitiga berisi daging, menggantungkan rumput Ai dan Changpu di depan rumah, dan mandi pada tengah hari. Pada tahun 1950-an Peh Cun juga menggelar pasar malam yang menyediakan jajanan khas. Seperti es shanghai, yaitu semacam sop buah pada saat ini dan kacang kulit khas Imlek adalah yang paling spesial.

    Pada bulan ketujuh diadakan Cit Gwe. Cit Gwee adalah perayaan menyambut arwah leluhur orang Cina yang dilepas oleh Dewa Giam Kun selama 15 hari. Orang Cina menyambut arwah dengan cara memberikan makanan di Kali Jodoh Tangerang. "Kali Jodoh itu pusatnya Cit Gwee, semua orang pasti ke sana," kata Ridwan. Meski pusatnya di Tangerang,  ada juga beberapa tempat yang juga merayakan Cit Gwee, yakni di Angke dan Kwitang. Setelah Cit Gwee, orang Cina pun kembali bekerja keras lagi mengumpulkan kekayaan sampai datang Imlek lagi.

    Semua perayaan itu akhirnya dilarang pada 1958 oleh Surat Keputusan yang dikeluarkan Wali Kota Jakarta Sudiro. Inti surat keputusan itu menyatakan pesta perayaan Imlek dianggap merusak moral masyarakat. Padahal orang Betawi sangat senang dengan perayaan Imlek dan memiliki hubungan harmonis dengan orang Cina. "Tidak ada bentrok dengan orang Cina, yang saya tahu pada saat itu bentrok antara pusat dan daerah," tutur Ridwan. Orang-orang Betawi dan Melayu sangat sedih dengan dihapuskan perayaan imlek, apalagi dengan dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 1959 yang melarang orang asing berusaha di bidang perdagangan eceran dari tingkat kabupaten ke bawah. Peraturan ini menyebabkan orang-orang Cina harus mengalihkan bisnisnya kepada pribumi. Peristiwa itu juga mengakibatkan eksodus besar-beasaran orang Cina nonwarga negara Indonesia dan Tionghoa peranakan kembali ke Cina Daratan.

    Menurut Ridwan, ada beberapa tradisi tersebut yang sudah ditinggalkan. Arak-arakan ke Pekong sudah tidak lagi dijalani. Padahal arak-arakan itu membuat suasana lebih berkesan. "Dulu orang Cina merayakan bersama-sama dengan orang Betawi dengan harmonis, tidak ada bentrok," tuturnya. Sangat disayangkan sekarang Imlek lebih sering dirayakan di mal, karena sudah banyak yang tidak tahu tradisi leluhur. Padahal banyak orang Cina yang tidak bisa merayakan Imlek dengan mewah di mal, contohnya Cina Benteng di Tangerang.

    Bahkan penyebutan selamat tahun baru Imlek pun sudah berubah. Dulu kita mengucapkan Sin Cun Kiong Hi atau selamat tahun baru, tapi sekarang jadi Gong Xi Fat Cai. "Gong Xi Fat Cai itu adopsi dari Hong Kong lho, bukan dari Cina Daratan," ujar Ridwan.

    INU KERTAPATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lion Air JT - 610, Kecelakaan Pesawat Nomor 100 di Indonesia

    Jatuhnya Lion Air nomor registrasi PK - LQP rute penerbangan JT - 610 merupakan kecelakaan pesawat ke-100 di Indonesia. Bagaimana dengan di dunia?